Jumat, 05 Maret 2021

RENCANA PENGEMBANGAN SEKOLAH

 RENCANA PENGEMBANGAN SEKOLAH

Perkembangan kualitas pendidikan saat ini menurun atau tidak sesuai dengan kenyataaan. Diantara yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan adalah kurangnya pengembangan daya untuk berkreasi, berinovasi. Lembaga pendidikan harus membawa lembaga pendidikannya kearah yang lebih maju dan berkembang. Rencana Kerja Sekolah (RKS) yang telah disusun menggambarkan tujuan yang hendak dicapai sekolah dalam beberapa tahun kedepan, untuk itu sekolah/madraah dalam melakukan pengembangan dan mewujudkan tujuan yang sudah tertuang dalam RKS maka Manajemen sekolah bertaraf internasional melalui penerapan teknologi informasi bisa digunakan sebagai salah satu bentuk inovasi dalam pengembangan mutu pendidikan.
Rencana kerja merupakan rencana yang menyeluruh untuk mengoptimalkan penggunaan sumberdaya sekolah, baik sumber daya manusia maupun sumber daya non manusia. Rencana kerja sekolah harus bisa berorientasi ke masa depan dan mampu mengimbangi kondisi yang ada saat ini dan keinginan atau tujuan yang akan dicapai dimasa depan. Dalam rencana kerja sekolah harus dapat memperhatikan peluang, ancaman dari lingkungan eksternal, kekuatan dan kelemahan lingkungan internal, serta mencari strategi dan program-program untuk memanfaatkan peluang dan kekuatan yang dimiliki, mengatasi tantangan dan kelemahan yang ada guna mencapai visi yang diinginkan. Rencana kerja sekolah harus memperhatikan visi san misi sekolah, tujuan pengembangan sekolah, tantangan, sasaran pengembangan sekolah, dan analisis SWOT.
RPS adalah sebuah dokumen perencanaan yang dibuat oleh pihak sekolah untuk menciptakan perubahan fisik atau nonfisik sekolah dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan sekolah. RPS merupakan suatu dokumen yang berisi tentang gambaran kegiatan sekolah/madrasah di masa depan dalam rangka untuk mencapai perubahan atau tujuan sekolah yang telah direncanakan. Keberhasilan penyususnan RPS dan RKS pada sekolah/madrasah, salah satunya dipengaruhi oleh kinerja kepala sekolah terutama dalam konteks kompetensi manajerial.

KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN DALAM MBS

 

IMPLEMENTASI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN

 Impelementasi Manajenen Berbasis Sekolah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan

MBS adalah salah satu basis manajemen pengelolaan sekolah yang memberikan

otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan bersama secara

partisipatif dari semua warga sekolah dan masyarakat disekitarnya dalam upaya

mengembangkan dan meningkatkan mutu pendidikan. 

Kinerja guru dapat didefinisikan oleh para ahli secara beragam. Menurut Oblilade

kinerja guru dapat digambarkan sebagai tugas yang dilakukan oleh seorang guru pada periode

tertentu dalam sistem sekolah untuk mencapai tujuan organisasi. Kinerja guru diukur melalui

lima indikator yaitu kualitas, kecepatan atau ketepatan, kemampuan, komunikasi, dan inisiatif

dalam bekerja.

Implementasi manajemen berbasis sekolah yang merupakan bentuk pengelolaan sekolah atau Madrasah dalam program desentralisasi di bidang pendidikan sudah dikenal dan ditandai dengan adanya otonomi luas di tingkat sekolah atau Madrasah, partisipasi masyarakat yang tinggi komandan terkait langsung dengan kebijakan pendidikan nasional maupun di daerah. 

Sebagai paradigma pendidikan yang baru maka dalam implementasi manajemen

berbasis sekolah melalui beberapa tahapan. Menurut Fatah tahapan implementasi tersebut

dibagi menjadi tiga, yaitu (1) Tahap Sosialisasi merupakan tahap yang penting mengingat

luasnya daerah yang ada terutama daerah yang sulit dijangkau serta kebiasaan masyarakat yang

umumnya tidak mudah menerima perubahan karena perubahan yang bersifat personal maupun

organisasional memerlukan pengentahuan dan keterampilan yang baru. Dengan adanya

sosialisasi ini maka akan mengefektifkan pencapaian implementasi manajemen berbasis

sekolah baik menyangkut aspek proses maupun pengembangannya di sekolah; (2) Tahap

Piloting yaitu merupakan tahap ujicoba agar penerapan konsep MBS tidak mengandung resiko.

Efektivitas model ujicoba memerlukan persyaratan dasar yaitu akseptabilitas, reflikabilitas,

dan sustainabilitas; (3) Tahap Desiminasi merupakan tahap memasyarakatkan model

manajemen berbasis sekolah yang telah diujicobakan ke berbagai sekolah agar dapat

mengimplementasikannya secara efektif dan efisien.

PRINSIP DAN KARAKTERISTIK MBS

 PRINSIP DAN KARAKTERISTIK MBS

Konsep desentralisasi pendidikan mengusulkan sebuah model penyelenggara-an pendidikan yang dikenal sebagai Manajemen Berbasis Sekolah (School Based Management). Dalam pelaksanaan model tersebut sekolah memiliki otonomi yang luas dalam penyelenggaraan pendididikan, hal ini sejalan dengan pendapat Priatmoko bahwa Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) mendesentralisasikan kekuasaan/kewenangan, pengetahuan, informasi, dan penghargaan kepada sekolah. 

Melalui MBS sekolah memiliki kewenangan dalam pengambilan keputusan yang terkait langsung dengan kebutuhan-kebutuhan sekolah. Tujuan MBS adalah meningkatkan kinerja sekolah dan terutama kinerja belajar siswa menjadi lebih baik. Melalui strategi desentralisasi pemerintahan di bidang pendidikan, Depdiknas tidak hanya berkepentingan dalam  mengembangkan kabupaten/kota dalam mengelola pendidikan, tetapi juga berkepentingan dalam mewujudkan otonomi satuan pendidikan, Depdiknas memiliki keleluasaan untuk membangun kapasitas setiap penyelenggara pendidikan, yaitu sekolah-sekolah. MBS mengembangkan satuan-satuan pendidikan secara otonom karena mereka adalah pihak yang paling mengetahui operasional pendidikan.

Prinsip dari MBS ada 4 yaitu yang pertama, Equifinalitas yang didasarkan pada teori manajemen modern yang berasumsi bahwa terdapat perbedaan cara untuk mencapai tujuan. Yang kedua, Desentralisasi dasar teori dari prinsip desentralisasi ini adalah manajemen sekolah dalam aktivitas pengajaran menghadapi berbagai kesulitan dan permasalahan. Yang ketiga, Sistem Pengelolaan Mandiri di bawah kendali kebijakan dan struktur utama, memiliki otonomi untuk mengembangkan tujuan pengajaran dan strategi manajemen, mendistribusikan sumber daya manusia dan sumber daya lain, memecahkan masalah dan meraih tujuan menurut kondisi mereka masing-masing. Dan yang keempat, Inisiatif Manusia sumber daya manusia menekankan pentingnya sumber daya manusia sehingga poin utama manajemen adalah untuk mengembangkan sumber daya manusia di sekolah untuk lebih berperan dan berinisiatif.

Sedangkan karakteristik MBS yaitu Sekolah dengan MBS memiliki misi atau cita-cita menjalankan sekolah untuk mewakili sekelompok harapan bersama, keyakinan dan nilai-nilai sekolah, membimbing warga sekolah di dalam aktivitas pendidikan dan memberi arah kerja. Misi ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap fungsi dan efektivitas sekolah, karena dengan misi ini warga sekolah dapat mengembangkan budaya organisasi sekolah yang tepat, membangun komitmen yang tinggi terhadap sekolah, dan mempunyai insiatif untuk memberikan tingkat layanan pendidikan yang lebih baik. Aktivitas pendidikan dijalankan berdasarkan karakteristik kebutuhan dan situasi sekolah. Hakikat aktivitas sangat penting bagi sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan, karena secara tidak langsung memperkenalkan perubahan manajemen sekolah dari menajemen kontrol eksternal menjadi model berbasis sekolah. Terjadinya proses perubahan strategi manajemen yang menyangkut hakikat manusia, organisasi sekolah, gaya pengambilan keputusan, gaya kepemimpinan, penggunaan kekuasaan, dan keterampilan-keterampilan manajemen. Oleh karena itu dalam konteks pelaksanaan MBS, perubahan strategi manajemen lebih memandang pada apek pengembangan yang tepat dan relevan dengan kebutuhan sekolah.

OTONOMI SEKOLAH ATAU MADRASAH

 OTONOMI SEKOLAH ATAU MADRASAH

Pada masa lalu, sistem pendidikan yang dikembangkan masih cenderung pada pola pendidikan masa penjajahan. Pemerintah tidak memberikan ruang untuk peran serta masyarakat sebagai pengguna langsung produk pendidikan. Keinginan pemerintah yang di gariskan dalam haluan negara agar pengelolaan pendidikan  diarahkan  pada  desentralisasi,  menuntut  partisipasi  masyarakat  secara aktif  untuk  merealisasikan  otonomi  daerah.  Karena  itu  pula  perlu  kesiapan  sekolah sebagai  ujung  tombak  pelaksanaan  operasional  pendidikan  pada  garis  bawah.  Sistem pendidikan yang dapat mengakomodasi seluruh elemen esensial diharapkan muncul dari pemerintah kabupaten dan kota sebagai penerima wewenang otonomi. Pendidikan yang selama ini dikelola secara terpusat (sentralisasi) harus diubah untuk mengikuti irama yang sedang berkembang.
Otonomi bisa diartikan sebagai kewenangan atau kemandirian, yaitu kemandirian dalam mengatur dan juga mengurus dirinya sendiri dan tidak tergantung. Otonomi sekolah yaitu kewenangan sekolah untuk mengatur dan mengurus kepentingan warga sekolah atau lingkungan sekolah tanpa harus terikat dengan pemerintah. Tujuan otonomi sendiri yaitu diharapkan sekolah mampu mengelola sumber daya sekolah dengan baik agar dapat menghasilkan sumber daya yang dibutuhkan secara maksimal dan mengambil keputusan sendiri sesuai dengan sumber daya yang dimiliki sekolah tersebut dan dapat mempertanggung jawabkannya. 
Untuk meningkatkan mutu sekolah maka pemerintah tidak hanya menerapkan otonomi sekolah tapi juga dengan MBS atau (school based quality management/school based quality improvement) yang merupakan salah satu dari kebijakan dari pendidikan untuk meningkatkan mutu pendidikan tersebut.

EVALUASI DAN PENGAWASAN PELAKSANAAN MBS

 EVALUASI DAN PENGAWASAN PELAKSANAAN MBS Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah pola penyesuaian sumber daya manusia yang dilakukan secara ...